"Maaf ya aku lagi pengen sendiri. Aku mau konsen sm kuliah dan kerjaku."
"Oh gitu ya? Baiklah kalau begitu. Aku terima keputusanmu. Terimakasih atas kebaikanmu selama ini. "
"Lagi ngapain sih cewe cowo itu? Kok cowonya malah pergi?" gumam Rendi sendirian.
"Lagi ngapain sih cewe cowo itu? Kok cowonya malah pergi?" gumam Rendi sendirian.
"Heh lagi ngapain lo?" tiba-tiba Dave mengagetkannya.
"Ssssttt... Jangan kenceng2 napa ngomongnya! Gue lagi ngeliatin tuh cewe," ujar Rendi sedikit kesal karna dikagetkan.
"Emang kenapa sama tuh cewe? Nolak cowo lagi ya?" tanya Dave sambil lalu.
"Loh kok lo tau dia nolak cowo tadi?? Lo juga merhatiin dia ya tadi?" tanya Rendi agak curiga.
"Nggak. Ngapain juga gue merhatiin cewe gak normal kaya gitu," cemooh Dave.
"Gak normal???" ulang Rendi bingung.
"Yang gue denger2 sih gitu. Soalnya udah beberapa kali ada cowo yg nembak dia tapi slalu ditolak. Gak doyan cowo kali tuh cewe."
"Masa sih?" ucap Rendi pada dirinya sendiri, tidak percaya mendengar kabar itu. Dengan bertekad hati dia memutuskan untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada diri cewe itu. Apa dia memiliki masa lalu yang suram dengan para lelaki? Atau benar yg dikatakan oleh Dave bahwa sebenarnya cewe itu memiliki kelainan alias lesbi?
"Gue harus cari tau," ucap Rendi dalam hati.
***
"Hai," ucap Rendi, mengagetkan Silvi yg sedang asik menulis di diarinya. Spontan Silvi menutup buku itu dan buru2 memasukkannya kedalam tas. "Apa aku mengejutkanmu?" tanya Rendi sambil melirik kearah tas Silvi. Silvi menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Hm... Anak Akuntansi juga kan ya kamu?" tanyanya lagi. Lagi2 cuma anggukkan pelan yg Rendi dapat. "Et dah, susah bener bkin nih cewe bersuara deh!" gerutunya dlm hati.
"Mm.. maaf aku harus ke kelas, sudah mau dmulai kuliahnya," ujar Silvi tiba2, membuat Rendi terperangah.
"Tapi..." Rendi tidak bisa melanjutkan kalimatnya sebab cewe itu sudah menghilang. "Cepet banget sih ngilangnya!" gerutunya. "Ntar pulang gue musti buntutin dia!" ucap Rendi bertekad.
***
"Wow... rame bener nih taman! Orang pacaran semua lage isinya! huh..." gerutu Rendi, melihat banyak pasangan sedang berpacaran padahal waktu telah menunjukkan jm 9 malam. "Wow," ucap Rendi terkejut, melihat cewe incarannya sedang berdiri memandang kearah sepasang kekasih. "Tatapan yg aneh. Kenapa ya dia melihat mereka kaya gitu???" tanya Rendi dalam hati. Tiba-tiba Rendi melihat Silvi menyeka matanya. "Nangis? Gue gak salah lihat kan???" gumam Rendi bertambah bingung. "Et dah.... napa sih tuh cewe cepet amat menghilang! kaya hantu aja!" tukas Rendi kesal, lagi2 kehilangan jejak incarannya. Tapi kemudian dia tidak sengaja melilhat cewe itu sedang duduk seorang diri disebuah bangku tak jauh dari situ. Rendi mendekatinya pelan2. Dia tidak ingin kehilangan jejaknya lagi.
"Hai," sapa Rendi, mengejutkan Silvi yg sedang termenung. Silvi tersenyum tipis sbagai jawabannya. "Sendirian aja. Lagi ngapain?" tanya Rendi pura2 acuh tak acuh.
"Lagi menikmati udara malam," jawab Silvi.
"Boleh aku duduk dsini?" tanya Rendi berbasa-basi. Silvi mengangguk. Suasana berubah canggung. Untuk beberapa lama mereka saling diam, asik dengan pikirannya masing2. Rendi, yg bertekad untuk mengorek info tentang cewe itu, jadi merasa rikuh sendiri. "Duh, kok jadi gini sih suasananya!" gerutu Rendi dalam hati.
"Mmm... kamu udah makan? Eh maksudku..." Rendi tidak meneruskan ucapannya. Dia menyesal melontarkan pertanyaan bodoh sperti itu sbab waktu hampir menunjukan pukul sepuluh malam.
"Belum," jawab Silvi, hampir bergumam. Rendi terkejut. Entah mengapa ia sering terkejut jika cewe itu mengucapkan sesuatu.
"Mau kutraktir makan?" celetuk Rendi, kembali menyesal telah bertanya sperti itu. "Pasti dia ngira gue lagi sok sksd sm dia deh," gumamnya bete.
"Boleh," jawab Silvi sambil tersenyum kecil, "kebetulan aku lagi bokek nih." Silvi tersenyum malu. Rendi kembali terkejut. Terkejut melihat senyum yg jarang ia lihat menghiasi wajah cantik itu.
"Sbenarnya cewe ini cantik juga kalau lagi senyum," gumamnya dalam hati, tersenyum tanpa sadar melihat cewe itu. "Eh.. ayo kita cari tempat untuk makan," ujar Rendi mengalihkan perhatian Silvi. Rendi memilih sebuah cafe yg letaknya tak jauh dari taman itu. Cafe itu sepi namun tempatnya lumayan nyaman untuk makan malam berdua.
"Jadi gimana? Boleh aku kenal kamu lebih dekat?" tanya Rendi, memulai pendekatannya. Dan tanpa dia duga, Silvi menyambutnya dengan senyuman kecil, yg membuatnya tampak lebih cantik.
Mulai malam itu, mereka pun berteman. Makin lama makin akrab. Setiap berangkat ke kampus, Rendi slalu menghampiri Silvi ke kosannya. Kadang-kadang makan siang berdua, pulang pun hampir tiap hari berdua. Ada sesuatu berbeda yg dirasakan Rendi kepada cewek itu. Dia merasa nyaman dengannya, merasa bahwa mungkin ia tlah jatuh cinta. Namun perasaan itu ia tepis, sbab ia tidak ingin perasaannya jauh lebih dalam lagi terhadap gadis itu. "Gue cuma pengen sekedar mengenalnya," gumam Rendi suatu ketika.
Rasa yg sama pun dirasakan oleh Silvi. Ia senang dan nyaman berada di dekat cowok itu. Ia juga berpikir mungkin ia tlah jatuh cinta padanya. Namun ia takut untuk membuka hatinya lebih lebar lagi untuk cowok itu. Ia takut hal yg sama ia rasakan kembali. "Tuhan, aku gak ingin disakiti lagi," gumam Silvi sedih. Namun sepertinya rasa yg mereka rasakan itu makin lama makin dalam mereka rasakan. Hubungan tanpa status mereka jalani. Walau keduanya single, namun tak satupun yg mengungkapkan perasaannya. "Ya sudahlah. Lebih baik kami berteman seperti ini saja," gumam Rendi dan Silvi dalam hati.
***
"Eh ntar ujian mid semester gue duduk sebelah lo ya Ren," ucap Dave setengah berteriak.
"Iya tenang aja," jawab Rendi santai.
"Asik dah punya sohib kaya lo. Bisa diajak kerjasama hahaha..." Dave tertawa senang. "Btw, gimana hasil pedekate lo sama cewe itu?" Rendi tidak menyahut. "Kayaknya berhasil nih," ujar Dave meledek.
"Ya begitulah," jawab Rendi singkat.
"Jadi kita udah tau deh siapa yang menang taruhan," ucap Dave tertawa, lagi-lagi meledek.
"Ya jelaslah siapa pemenangnya," sahut Rendi terdengar sombong.
"Liat-liat dong kalo jalan!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar kelas. Rendi dan Dave saling pandang sambil mengangkat bahu, tidak peduli dengan keadaan gaduh itu. Tak lama ruang kelas merekapun senyap karna ujian Mid telah berlangsung.
"Ya begitulah," jawab Rendi singkat.
"Jadi kita udah tau deh siapa yang menang taruhan," ucap Dave tertawa, lagi-lagi meledek.
"Ya jelaslah siapa pemenangnya," sahut Rendi terdengar sombong.
"Liat-liat dong kalo jalan!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar kelas. Rendi dan Dave saling pandang sambil mengangkat bahu, tidak peduli dengan keadaan gaduh itu. Tak lama ruang kelas merekapun senyap karna ujian Mid telah berlangsung.
***